BLOG
Kebun Teh

Sejarah Teh

Sejarah teh sangat panjang dan kompleks, telah tersebar melalui lintas budaya  dan negara selama rentang waktu ribuan tahun. Legenda mengatakan bahwa teh  ditemukan oleh Kaisar Cina Shen Nong sekitar 2737 SM. Sang kaisar yang ahli  pengobatan dan herbal memiliki kebiasaan merebus air minumnya.

Suatu hari ketika berada di taman, tanpa sengaja beberapa daun teh jatuh ke  dalam rebusan air dan memberikan aroma kaya nan memikat. Kemudian setelah  meminumnya sang kaisar merasakan kesegaran dan energi dari teh.

Dia segera memerintahkan untuk menanam pohon-pohon teh di taman istanyanya,  dengan demikian kebiasaan minum teh dari seduhan daun teh dan air panas dimulai  serta telah menyebar dengan cepat.

Lu Yu menulis dalam buku teh klasik (Cha Jing) teh sebagai minuman yang  ditemukan oleh Shennong.

Sedangkan buku pengobatan yang berjudul Shennong Ben Cao Jing mengatakan bahwa  "Kaisar Shennong mencicipi ratusan herbal, ia bertemu 72 macam racun setiap hari  dan menggunakan teh sebgai penangkalnya. Dalam legenda Cina sang kaisar  meninggal di Bukit teh (Chaling) Hunan.

Mengapa disebut teh?

Kebanyakan istilah sebutan untuk teh adalah cha di wilayah Cina, namun sepanjang  pantai tengah mereka menyebutnya sebagai Te.

Kata Cha lebih banyak di daerah Kanton, Guang Zhou dan Macau sehingga pada saat  penyebara teh di abad ke-16 baik Jepang maupun Korea menyebut dengan Cha.

Selain itu penyebaran teh melalui jalan darat atau jalan sutra mengambil sebutan  "Cha"

Ex: India              = Chai
      Arab              = Shai
      Mongolia        = Tsai
      Turkey           = Cay

Kata "teh" berasal dari kata te sesuai dengan dialek Amoy atau Hokkien yang biasa diucapkan di daerah Fujian, melalui pelabuhan Xiamen inilah terjadi kontak dengan orang Eropa.

Dari sinilah penyebaran melalui jalur laut terjadi:

Ex:          English               = Tea
               Indonesia            = Teh
               Belanda              = Thee
               France                = The
               Germany            = Tee
               Malay                 = teh
Dalam kehidupan masyarakat China, setidaknya ada sejarah sepanjang 3000 tahun. Jika sampai posisinya tergantikan oleh kopi dan minuman soda berarti menandakan adanya kemunduran budaya, sehingga  pembahasan mengenai seni meramu teh dan meneliti teknik pengolahannya dapat meningkatkan kegemaran akan teh dan membuka luas jalan untuk menyebarluaskan kegunaan teh, sehingga menambah keuntungan dalam berdagang dan menjadi hal yang perlu dipromosikan selain menikmati teh itu sendiri.

Sedangkan di sini, teh telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia lebih dari 200 tahun. Pada tahun 1648 tanaman teh pertama masuk ke Indonesia dalam bentuk biji teh dari Jepang yang dibawa oleh Andreas Cleyer dan ditanam sebagai tanaman hias di Batavia.

Setelah berhasil dalam penanaman percobaan skala besar di Purwakarta dan Banyuwangi membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh dari Belanda untuk menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di pulau Jawa.

Tahun 1828 pada masa Gubernur Van Den Bosh berkuasa, teh adalah salah satu tanaman yang harus ditanam oleh rakyat melalui politik Tanam Paksa (Culture Stelsel).

Namun, sebenarnya pengolahan teh sudah didukung pemerintah Belanda sejak 1728 yang telah melakukan perdagangan teh dengan China. Pada tahun 1750 VOC menciptakan sistem lelang di London dan masih bertahan sampai hari ini.

Pada tahun 1872 bibit teh assamica didatangkan untuk mengganti pohon teh sinensis dai China yang selama ini ada.

Pada perkembangan perkebunan teh di Indonesia ada dari beberapa pengusaha Belanda yang disebut sebagai "Preanger Planter". Karena merekalah Indonesia menjadi produsen teh terbesar ke-5 di dunia pada saat itu.

  • Sekitar tahun 1844 seorang pengusaha Belanda GLJ (Willem) Van der Hucht memulai sebagai pioner Preanger Planter dan membawa seluruh keluarganya untuk membuka perkebunan teh di Parakan Salak Sukabumi.
  • Karel Frederik Halle sebagai pemilik perkebunan (Bellevue) di daerah Garut yang mendapat hati di masyarakat karena keberpihakannya kepada pribumi.
  • Andriaan Welraven Halle yang masih bersaudara dengan KF Halle ditunjuk oleh Willem van der Hucht sebagai manajer perkebunan Parakan Salak. Karena kecintaanya kepada budaya setempat dia sampai menguasai alat musik rebab dan secara tidak langsung mempromosikan gamelan Sunda ke Eropa.
  • RE Kerkhoven pada tahun 1873 sebagai perintis perkebunan teh Gambung dan Malasan. Dia ternamasuk yang membawa bibit teh varian assamica untuk dibudidayakan dan menjadikan teh sebagai komoditas emas pada masa itu.
  • KAR Bosscha pada tahun 1896 adaalah manajer perkebunan Malabar. Dibalik kekurangan fisiknya, jasa Bosscha sangat besar oada Indonesia karena mendirikan sekolah dasar bernama SDN Malabar II. Pada tahun 1923 Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Technische Hoogschool (ITB) dan Observatorium Bosscha. Pemerintah kolonial Belanda menganugerahkan gelar warga terhormat kepadanya.

 

Pada akhir 1928 awal industri teh besar-besaran dimulai dan sekitar beberapa tahun kemudian sekitar tahun 30-40an industri teh wangi dimulai sebagai usaha rumahan dan kemudian berkembang sampai saat ini.

Nara sumber: Bp. Umar Syarif