BLOG
Teh dan Filosofi

Teh dan Filosofi

Sebagian orang mungkin hanya mengenal teh sebagai minuman saja. Maka tak heran jika mendengar filosofi teh, mungkin akan terheran-heran. Bagaimana bisa sebuah minuman kok mengandung nilai-nilai filsafat yang biasanya hanya dilakukan oleh para filsuf. Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita eksplorasi terlebih dahulu apa makna dari filosofi sendiri.

Menurut Wikipedia, filsafat adalah sebuah studi tentang fenomena kehidupan dan pemikiran manusia yang dijabarkan dalam sebuah konsep dasar. Dalam penjabaran tidak dilakukan dengan eksperimen, tetapi lebih kepada pengutaraan masalah dan pencarian solusi yang disertai alasan dan argumentasi yang kuat. Artinya filsafat mesti pula didasarkan pada logika.

Secara harafiah filsafat berasal dari kata philia yang artinya persahabatan, cinta, dsb. Dan kata sophia yang artinya kebijaksanaan. Jadi arti yang mudah dimengerti filsafat adalah pecinta kebijaksanaan.

Dalam tradisi barat, filsafat dibagi dalam 5 bagian yang didasarkan pada tema tertentu :

  1. Metafisika.
    Dalam golongan ini filsafat lebih banyak pada pemikiran mengenai ekstensi dan materi. Dari mana materi berasal, bagaimana hal tersebut dapat terjadi semua dijadikan pemikiran yang seringkali melewati perenungan dan pengamatan terhadap alam.
  2. Epistemologi.
    Pengkajian dan pemikiran tentang hakikat dan pengetahuan. Pembahasan meliputi batas, sumber, serta kebenaran sebuah pengetahuan.
  3. Aksiologi.
    Membahas mengenai nilai dan norma yang berlaku pada kehiduoan manusia. Dari tema ini dapat dibagi menjadi 2 sub tena yaitu etika dan estetika.
  4. Etika membahas tentang bagaimana manusia seharusnya bertindak. Beberapa bahasan menyangkut mengenai kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, nurani, dsb.
  5. Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan.

Budaya dan seni minum teh mengalami perkembangan dari jaman ke jaman. Awal ditemukan digunakan untuk pengobatan, sarana meditasi dalam keagamaan, minumanan nasional, dan jauh berkembang ketika dibawa ke negara lain yang beradaptasi dengan budaya setempat.

Perkembangan budaya mencakup beberapa variasi. Dari yang sekedar menjadi sebuah tradisi dengan tata cara maupun peralatan yang dimodifikasi atau beradaptasi dengan budaya setempat hinggs terkreasi sebuah tata cara baru dengan peralatan yang baru.

Adalah pendeta Budha Jepang yang membawa budaya teh dari Cina dan dikembangkan menjadi sebuah ceremony yang memiliki nilai-nilai filosofi yang tinggi.

Chado

Chado artinya jalan hidup teh. Baik budaya China maupun Jepang mengenal Chado, akan tetapi Chado lebih bekembang di Jepang dan bertahan hingga saat ini. Chado sendiri mengalami perkembangan yang berbeda dari jaman ke jaman. adalah Seno Rikyu yang mengajarkan empat pilar filosofi dalam Chado, yaitu WA, KEI,SEI, dan JAKU yang bermakna keselarasan, rasa hormat, ketulusan, dan ketenangan. Chado adalah sebuah disiplin yang disimbolkan dalam ritual dan gerakan tertentu dan  sebuah ritual yang lengkap yang menggunakan waktu sekitar 15 menit untuk menyajikan semangkok teh. Ada beberapa macam ritual yang memiliki tata cara, peralatan dan pakaian yang berbeda yang disesuaikan dengan musim atau tujuan ritual tersebut. Selain itu, juga terdapat beberapa macam aliran yang tentunya memiliki ritual dan tata cara yang tidak sama.

Dalam aliran Urasenke, yang kebetulan memiliki cabang di Indonesia yang bernama Urasenke Takkokai. Banyak para praktisi Chado di Indonesia yang mempelari  Chado di bawah organisasi ini. Pelajaran dasar dari Chado aliran Urasenke adalah Obon yang diselenggarakan di Japan Foundation Jakarta selama 3 bulan yang biasanya dilakukan pada bulan April hingga Jini. Setelah mempelajari Obon, pelajaran berikutnya adalah Situshebon, Chabako, Otsuno dan Demai. Dalam pelajaran Otsunopun masih ada 18 macam tata cara lagi yang berbeda. Itu sebabnya belajar Chado merupakan pelajaran seumur hidup yang membutuhkan disiplin yang tinggi.

Filosofi Teh dan Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari.

Makna dan aplikasi dari filosofi masing-masing orang bisa saja berbeda tergantung dari pengalaman hidupnya. Misalnya saja memaknai WA, atau keselarasan bisa memiliki aneka makna.

Ada yang memaknai sebagai keselarasan antara manusia dan alam, manusia dan Tuhan, dan sebagainya.

Penulis sendiri memaknai WA sebagi dasar pokok yabg sangat mempengaruhi aspek kehidupan. Seperti yin dan yang di China, dimana ini dapat berlaku dalam apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.

Khusus untuk manfaat teh penulis lebih memaknai sebagai alert atau pengingat untuk selalu melakukan kebajikan. Menjauhkan diri dari hal-hal yang sebenarnya mencederai atau berlawanan dengan kebaikan teh. Contoh yang nyata adalah teh dan rokok merupakan sebuah ketidaklarasan dan sebuah kesia-siaan. Betapa tidak, teh yang dikenal memberikan manfaat buat kesehatan tentunya tidak akan berarti jika disandingkan dengan rokok yag merugikan kesehatan,

Di Indonesia sendiri secara kontekstual berkembang nilai-nilai filosofi dalam teh. Contohmya adalah teh poci dan Tegal. Penggunaan gula batu sebagai pemanis disertai syarat tidak boleh diaduk dengan sendok tetapi hanya cukup dengan menggoyang gagang cangkir saja. Tentunya pada awal gula belum terlarut rasa teh berasa pahit, tetapi lama kelamaan akan terasa manis. Maksa dari filosofi ini adalah untuk mendapakan manisnya hidup tidak menggunakan cara instant, tetapi lewat sebuah usaha yang acapkali diawali dengan kepahitan. Manisnya hidup akan terasa sangat berarti tatkala kita sudah pernah merasakan kepahitan hidup.

Tea Quote dan Tea Story

Dalam lingkup lebih sempit filosofi teh dituliskan dalam bentuk ungkapan. dalam lingkup yang lebih luas diungkapkan dalam bentuk cerita yang mengandung inspirasi.

Contohnya ada dalam satu kompilasi cerita.

Saya ambil salah satu cerita yang berjudul Teh Manis dan Ungkapan Terima Kasih.

Tulisan ini mengkisahkan seorang ibu ytang sedang menyesali hidupnya karena putranya yang masih kecil didiagnosis m,enderita penyakit diabetes tipe 2, yang artinya dia harus disuntik insulin seumur hidupnya.

Dalam kegalauannya tiba-tiba datang orang tak dikenal hanya untuk memberikan secangkir chai, teh khas india. “ ini membuat perasanmu lebih baik ”,kata si orang asing tersebut.

Walau dengan perasaanenggan, si ibu menerima cangkir tadi dan bermaksud membuangnya ketika orang asing sudah pergi. Tetapi aroma chai yang harum membuat dia tergoda untuk mencicipi sedikit. Dan ternyata si ibu menyukainya dan merasa lebih baik perasaannya.

Ketika pulang dari RS, si anak ingin makan sesuatu, sementara di cage yang tersedia makanan manis semua. Setelah diteliti ternyata tersedia chai tanpa gula. Dia coba beli dan ternyata si anak menyukainya.

“Nak, ada banyak hal diluar ana yang belum pernah klita coba. Anggap saja minuman ini adaalh hal baru yang pertam kita coba”.

Akhirnya si ibu bisa menerima kondisi penyakit anaknya. Bahkan dia merasa ini bukan kutukan, melainkan anugerah dari Tuhan untuk mendapat kesmpatan mencoba hal-hal baru.

Jadi kesimpulannya adalah filosofi teh adalah hal-hal baru tentang kebaikan yang didapatkan langsung atau tidak langsung. Inspirasinya dapat dihubungkan dengan teh dari hasil berbagi. Karena makna hakiki dan filosofi teh adalah berbagi. Jadi minum teh memang sebaiknya tidak dilakukan sendiri tetapi diminum bersam-sama. Dari yang semula berbagi teh, berbagi cerita tentang teh, hingga akhir dapat memberi inspirasi kebijakan dan kebaikan baru.